annisa.maghfirah10's blog

mencari dan memberi yang terbaik

Pengetahuan Konsumen

October5

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

 

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session 6 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

 

 

PENGETAHUAN KONSUMEN

Oleh    : Annisa Maghfirah

Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pemgembangan Masyarakat)

College of Human Ecology

 

Berdasarkan definisi dari Mowen dan Minor, dan Engel, Blackwell, dan Miniard tentang pengetahuan konsumen, maka pengetahuan konsumen dapat diartikan sebagai semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen. Para ahli psikologi kognitif membagi pengetahuan ke dalam pengetahuan deklaratif (declarative knowledge) dan pengetahuan prosedur (procedural knowledge). Pengetahuan deklaratif adalah fakta subjektif yang diketahui oleh seseorang. Arti subjektif di sini adalah pengetahuan seseorang tersebut mungkin tidak selalu harus sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Pengetahuan prosedur adalah pengetahuan mengenai bagaimana fakta-fakta tersebut digunakan.

Mowen dan Minor (1995) membagi pengetahuan konsumen menjadi tiga kategori, yaitu pengetahuan objektif, pengetahuan subjektif, dan informasi mengenai pengetahuan lainnya. Pengetahuan objektif adalah informasi yang benar-benar mengenai kelas produk yang disimpan di dalam memori jangka panjang konsumen. Pengetahuan subjektif adalah persepsi konsumen mengenai apa dan berapa banyak yang dia ketahui mengenai kelas produk. Konsumen mungkin juga memiliki informasi mengenai pengetahuan berbagai hal lainnya. Untuk kepentingan pemasaran, diperlukan pembagian pengetahuan yang lebih tepat. Engel, Blackwell, dan Miniard (1995) membagi pengetahuan konsumen ke dalam tiga macam, yaitu pengetahuan produk, pengetahua pembelian, dan pengetahuan pemakaian.

Pengetahuan produk adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk. Peter dan Olson (1999) menyebutkan bahwa konsumen memiliki tingkat pengetahuan produk yang berbeda. Pengetahuan ini meliputi kelas produk, bentuk produk, merek, dan model atau fitur. Kelas produk adalah tingkat pengetahuan produk yang paling luas, yang meliputi beberapa bentuk, merek atau model.

Peter dan Olson (1999) juga membagi tiga jenis pengetahuan produk, yaitu pengetahuan tentang karakteristik atau atribut produk, pengetahuan tentang manfaat produk, dan pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk bagi konsumen. Pengetahuan mengenai atribut produk akan mempengaruhi pengambilan keputusan konsumen. Pengetahuan yang lebih banyak mengenai atribut suatu produk akan memudahkan konsumen untuk memilih produk yang akan dibelinya. Atribut suatu produk dibedakan ke dalam atribut fisik yang menggambarkan ciri-ciri fisik suatu produk, dan atribut abstrak yang menggambarkan karakteristik subjektif dari suatu produk berdasarkan persepsi konsumen.

Jenis pengetahuan produk yag kedua adalah pengetahuan tentang manfaat produk. Konsumen seringkali berpikir mengenai manfaat yang ia akan rasakan jika mengkonsumsi atau membeli suatu produk, bukan mengenai atributnya. Pengetahuan tentang manfaat produk akan mempengaruhi keputusan pembelian konsumen. Oleh karena itu, pemasar perlu menyampaikan informasi mengenai apa manfaat produk bagi konsumen.

Ada dua jenis manfaat yang akan dirasakan oleh konsumen setelah mengkonsumsi suatu produk, yaitu manfaat fungsional dan manfaat psikososial. Manfaat fungsional adalah manfaat yang dirasakan konsumen secara fisiologis, sedangkan manfaat psikososial adalah aspek psikologis (perasaan, emosi, dan mood) dan aspek sosial (persepsi konsumen terhadap bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya) yang dirasakan konsumen setelah mengkonsumsi suatu produk. Konsumen merasakan bukan hanya manfaat positif, tetapi juga manfaat negatif sebagai konsekuensi dari mengkonsumsi atau menghindari produk-produk tertentu.

Manfaat suatu produk dapat dijadikan dasar untuk melakukan segmentasi pasar, disebut sebagai benefit segmentation. Manfaat negatif yang dirasakan oleh konsumen disebut juga sebagai risiko yang akan didapat oleh konsumen akibat mengkonsumsi atau tidak mengkonsumsi suatu produk. Hal ini disebut persepsi risiko. Dua hal penting untuk memahami persepsi risiko ini adalah adanya ketidakpastian dan konsekuensi. Persepsi risiko ini mempengaruhi jumlah informasi yang dicari konsumen. Persepsi risiko dapat dibagi ke dalam tujuh macam, yaitu risiko fungsi, keuangan, fisik, psikologis, sosial, waktu, dan hilangnya kesempatan.

Pengetahuan produk terdiri atas pengetahuan tentang di mana membeli produk dan kapan membeli produk. Menurut Engel, Blackwell, dan Miniard (1995), pengetahuan pembelian terdiri atas pengetahuan tentang toko, lokasi produk di dalam toko tersebut, dan penempatan produk yang sebenarnya di dalam toko tersebut. Peter dan Olson (1999) menguraikan bahwa perilaku membeli memiliki urutan store contact yang meliputi tindakan mencari outlet, pergi ke outlet, dan memasuki outlet, product contact yaitu saat konsumen akan mencari lokasi produk, mengambil produk tersebut, dan membawanya ke kasir, dan transaction yaitu saat konsumen akan membayar produk tersebut dengan tunai, kartu kredit, kartu debet, atau alat pembayaran lainnya.

Dengan semakin majunya teknologi digital, komputer, dan informasi, maka pola belanja seorang konsumen lebih bervariasi dan semakin meninggalkan pola belanja tradisional. Sebagian besar pembelian atau transaksi dapat dilakukan tanpa uang tunai baik berbelanja di toko maupun berbelanja melalui mail order dan internet. Sistem pembayaran debet otomatis memungkinkan konsumen dapat membayar segala macam tagihan bulanan di satu lokasi, tanpa harus mendatangi berbagai tempat pembayaran penyedia jasa tersebut.

Suatu produk akan memberikan manfaat kepada konsumen jika produk tersebut telah digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen. Konsumen harus bisa menggunakan atau mengkonsumsi suatu produk dengan benar agar bisa memberikan manfaat yang maksimal dan kepuasan yang tinggi kepada konsumen. Oleh karena itu, produsen sangat berkepentingan untuk memberitahu konsumen bagaimana cara menggunakan produknya dengan benar.

posted under Academic | No Comments »

Proses Belajar Konsumen

September27

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

 

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session 5 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

 

 

PROSES BELAJAR KONSUMEN

Oleh    : Annisa Maghfirah

Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pemgembangan Masyarakat)

College of Human Ecology

 

Beberapa pengertian proses belajar dikemukakan oleh penulis buku perilaku konsumen, seperti Solomon, Schiffman dan Kanuk, Engel, Blackwell, dan Miniard, serta Loudon dan Della Bitta. Dari pengertian yang disampaikan oleh penulis tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman, pengetahuan dan pengalaman ini akan mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang relatif permanen. Beberapa hal penting dari belajar adalah, yang pertama, belajar adalah suau proses yang berkelanjutan. Kedua, pengalaman memainkan peranan dalam proses belajar. Ketiga, terminologi belajar memiliki makna yang luas.

Proses belajar bisa terjadi karena adanya empat unsur yang mendorong proses belajar tersebut. Keempat unsur tersebut adalah motivasi (motivation), isyarat (clues), respons (response), dan pendorong atau penguatan (reinforcement). Keempat unsur ini dapat dikatakan sebagai syarat proses belajar. Motivasi adalah daya dorong dalam diri konsumen. Motivasi muncul karena adanya kebutuhan. Isyarat adalah stimulus yang mengarahkan motivasi. Isyarat akan mempengaruhi cara konsumen bereaksi terhadap suatu motivasi. Respons adalah reaksi konsumen terhadap isyarat. Pendorong adalah sesuatu yang meningkatkan kecenderungan seorang konsumen untuk berperilaku pada masa datang karena adanya isyarat atau stimulus.

Beberapa pakar mengklasifikasikan proses belajar ke dalam dua kategori yaitu proses belajar kognitif (cognitive approach) dan proses belajar perilaku (behaviorist approach). Proses belajar kognitif adalah proses belajar yang dicirikan oleh adanya perubahan pengetahuan, yang menekankan kepada proses mental konsumen untuk mempelajari informasi. Proses belajar perilaku adalah proses belajar yang terjadi ketika konsumen bereaksi terhadap lingkungannya atau stimulus luar. Proses belajar perilaku terbagi menjadi proses belajar classical conditioning, proses belajar instrumental conditioning (operant conditioning), dan proses belajar vicarious learning (observational atau social learning).

Classical conditioning adalah suatu teori belajar yang mengutarakan bahwa makhluk hidup, baik manusia maupun hewan adalah makhluk pasif yang bisa diajarkan perilaku tertentu melalui pengulangan (repetition atau conditioning). Seorang psikolog Rusia, Ivan Pavlov, membuktikan teori belajar classical conditioning ini melalui percobaan yang menggunakan seekor anjing. Ada tiga konsep utama yang diturunkan dari proses belajar ini, yaitu pengulangan (repetition), generalisasi stimulus (stimulus generalization), dan diskriminasi stimulus (stimulus discrimination).

Pengulangan adalah proses menyampaikan pesan kepada konsumen berulang kali dengan frekuensi yang berkali-kali. Generalisasi stimulus adalah kemampuan seorang konsumen untuk bereaksi sama terhadap stimulus yang relatif berbeda. Pemahaman generalisasi stimulus biasanya diterapkan dalam pemasaran untuk membuat merek dan kemasan seperti perluasan lini produk, yaitu perusahaan menambahkan produk baru yang terkait atau sejenis kepada produk lama dengan merek yang sudah ternama. Merek keluarga, yaitu memberikan merek yang sama kepada semua lini produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan. Me-too products, yaitu suatu konsep yang membuat kemasan mirip dengan kemasan produk pesaing dengan membuat kemiripan dengan produk pemimpin pasar. Similar name, memiliki konsep yang sama seperti me-too products yaitu pesaing ingin membuat citra produknya sama dengan produk pemimpin pasar di mata konsumen. Licensing, yaitu praktik pemberian merek dengan menggunakan nama-nama selebriti, nama desainer, nama produsen, nama perusahaan, bahkan tokoh-tokoh film kartun yang bertujuan untuk menimbulkan citra positif terhadap produk-produknya. Generalisasi situasi pemakaian, yaitu cara yang dilakukan pemasar untuk membuat citra positif dari mereknya yang sudah terkenal dapat diasosiasikan dengan produk-produknya yang baru melalui perluasan lini produk.

Diskriminasi stimulus berlawanan dengan generalisasi stimulus. Pada generalisasi stimulus, konsumen diharapkan bisa mengambil kesimpulan yang sama dari berbagai stimulus yang relatif berbeda. Pada diskriminasi stimulus, konsumen diharapkan bisa mengambil kesimpulan berbeda terhadap beberapa stimulus yang mirip satu dengan yang lainnya. Diskriminasi stimulus biasanya dipakai untuk melakukan positioning dan differensiasi produk oleh pemimpin pasar atau prpduk pada umumnya. Positioning suatu produk atau merek adalah citra yang dimiliki konsumen terhadap produk tersebut. Differentiation adalah usaha produsen untuk mengkomunikasikan berbagai atribut dari produknya yang berbeda atau yang tidak dimiliki oleh produk lainnya.

Proses belajar instrumental (operant conditioning) adalah proses belajar yang terjadi pada diri konsumen akibat konsumen menerima imbalan yang positif atau negatif (rewards) karena mengkonsumsi suatu produk sebelumnya. Proses belajar instrumental memiliki empat konsep yang penting. Pertama, penguatan. Penguatan terbagi menjadi dua, yaitu penguatan positif yang merupakan hal-hal positif yang diterima konsumen karena mengkonsumsi atau membeli sesuatu produk dan penguatan negatif yang merupakan hal-hal negatif yang akan dirasakan konsumen karena ia tidak mengkonsumsi atau membeli suatu produk atau jasa. Engel, Blackwell, dan Miniard mengusulkan dua bentuk penguatan yaitu product reinforcement dan nonproduct reinforcement. Product reinforcement adalah produk yang dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen yang dengan sendirinya akan memberi penguatan kepada konsumen apakah ia akan membeli ulang produk tersebut atau menghentikannya. Nonproduct reinfircement adalah penguatan yang dilakukan produsen kepada konsumen bukan dalam bentuk produk.

Konsep proses belajar instrumental yang kedua adalah hukuman. Hukuman adalah hal-hal negatif atau hal yang tidak menyenangkan yang diterima konsumen karena ia melakukan suatu perbuatan. Ketiga, kepunahan, yaitu anggapan konsumen bahwa stimulus tidak dapat memberikan kepuasan yang diharapkannya. Keempat, shaping, yaitu suatu konsep dimana konsumen diarahkan untuk melakukan suatu perilaku sebelum dia bisa melakukan perilaku yang diharapkan produsen.

Observational learning (vicarious learning) adalah proses belajar yang dilakukan konsumen ketika ia mengamati tindakan dan perilaku orang lain dan konsekuensi dari perilaku tersebut. Konsumen meniru perilaku dari orang lain tersebut, sehingga dikenal dengan modelling. Peter dan Olson menyebutkan bahwa ada tiga penggunaan vicarious learning dalam strategi pemasaran, yaitu mengembangkan respons baru, mencegah respons yang tidak dikehendaki, dan memfasilitasi respons.

posted under Academic | No Comments »

Pengolahan Informasi dan Persepsi Konsumen

September20

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

 

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

 

 

PENGOLAHAN INFORMASI DAN PERSEPSI KONSUMEN

Oleh    : Annisa Maghfirah

Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pemgembangan Masyarakat)

College of Human Ecology

 

Pengolahan informasi terjadi pada diri konsumen ketika salah satu konsumen menerima input dalam bentuk stimulus, yang dapat berbentuk produk, nama merek, kemasan, iklan, maupun nama produsen. Proses pengolahan informasi diartikan sebagai “is the process through which consumers are exposed to information, become involved with it, attend to it, comprehend it, place it into memory, and retrieve it for later use” (Mowen dan Minor, 1998).

 

Tahap-Tahap Pengolahan Informasi (Engel, Blackwell, dan Miniard, 1995):

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Pemaparan (exposure) à pemaparan stimulus yang menyebabkan konsumen menyadari stimulus tersebut melalui pancainderanya.
  2. Perhatian (attention) à kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk
  3. Pemahaman (comprehension) à interpretasi terhadap makna stimulus
  4. Penerimaan (acceptance) à dampak persuasif stimulus kepada konsumen
  5. Retensi (retention) à pengalihan makna stimulus dan persuasi ke ingatan jangka panjang (long-term memory)

PEMAPARAN

Konsumen yang merasakan stimulus yang datang ke salah satu pancainderanya disebut sebagai sensasi. Sensasi dipengaruhi oleh dua hal, yaitu ambang absolut (the absolute threshold) dan perbedaan ambang (differential threshold). Ambang absolut adalah jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensasi. Titik dimana seorang konsumen merasakan perbedaan “ada” dan “tidak ada” dari suatu stimulus, itulah yang disebut ambang stimulus bagi konsumen. Perbedaan ambang adalah batas perbedaan terkecil yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip. Konsep perbedaan ambang ini dikenal dengan nama The Just Noticeable Difference Threshold (JND). Konsep ini dikemukakan oleh Ernst Weber. Ia merumuskan Model Weber yang sangat terkenal untuk menjelaskan konsep JND sebagai berikut:

 

ΔI = I × K

ΔI        = JND, perbedaan kecil dari intensitas stimulus yang diperlukan untuk

menghasilkan JND

I           = Intensitas stimulus awal sebelum ada perubahan

K         = Kostanta yang menggambarkan proporsi jumlah perubahan dalam

stimulus yang diperlukan agar bisa dirasakan. Nilai K akan berbeda-beda

antara pancaindera

 

 

PERHATIAN

Ada dua faktor utama yang mempengaruhi perhatian konsumen terhadap stimulus yang akan diperhatikannya, yaitu faktor pribadi dan faktor stimulus. Faktor pribadi adalah karakteristik konsumen yang muncul dari dalam diri konsumen. Faktor ini ada di luar kontrol pemasar. Berbeda dengan faktor pribadi, faktor stimulus adalah faktor yang dapat dikontrol dan dimanipulasi oleh pemasar dan pengiklan yang bertujuan untuk menarik minat konsumen.

Faktor-faktor stimulus meliputi:

  1. Ukuran (size) à semakin besar ukuran stimulus, maka semakin menarik perhatian.
  2. Warna (colour) à warna-warni dari suatu stimulus akan menarik perhatian lebih besar dibanding dengan stimulus yang hitam putih.
  3. Intensitas (intensity) à frekuensi yang lebih sering akan memperbesar stimulus sehingga menimbulkan perhatian yang lebih besar.
  4. Kontras (contrast) à stimulus yang ditampilkan sangat kontras dengan latar belakangnya seringkali menarik perhatian yang lebih baik.
  5. Posisi (position) à suatu stimulus mungkin lebih diperhatikan oleh konsumen karena letaknya yang strategis di suatu lokasi.
  6. Petunjuk (directionality) à mata konsumen seringkali tertuju kepada stimulus yang diarahkan oleh suatu petunjuk.
  7. Gerakan (movement) à stimulus yang bergerak akan menarik perhatian konsumen dibandingkan yang diam.
  8. Kebauran (novelty) à stimulus yang ditampilkan dengan teknik kebauran biasanya menimbulkan penasaran dan keingintahuan.
  9. Isolasi (isolation) à teknik meletakkan stimulus pada suatu ruang dimana ruang yang digunakan oleh stimulus ini hanya sedikit sekali, sedangkan sisa ruangan yang besar tidak terpakai untuk menarik perhatian.
  10. Stimulus yang disengaja (“learned” attention-inducing stimuli) à beberapa stimulus seperti telepon atau bel rumah yang sengaja dipasang untuk menarik perhatian.
  11. Pemberi pesan yang menarik (attractive spokesperson) à pemasar menggunakan para selebriti sebagai bintang iklan aga menarik perhatian konsumen.
  12. Perubahan gambar yang cepat (scene changes) à penampilan banyak gambar dalam waktu singkat yang akan menimbulkan akivitas otak secara tidak sengaja yang akan menarik perhatian konsumen.

 

 

PEMAHAMAN

Pemahaman adalah usaha konsumen untuk mengartikan atau menginterpretasikan stimulus. Pada tahap ini, konsumen melakukan “perceptual organization”. Ada tiga prinsip perceptual organization, yaitu:

  1. Ganbar dan latar belakang (figure and ground) à gambar adalah suatu stimulus yang ditempatkan dalam suatu latar belakang. Konsumen cenderung memisahkan mana obyek yang harus diperhatikan dan mana latar belakangnya.
  2. Pengelompokan (grouping) à orang akan lebih mengingat informasi jika disajikan dalam bentuk kelompok atau secara terpisah-pisah.
  3. Closure à konsumen akan berusaha memahami suatu obyek dalam arti yang utuh walaupun ada bagian dari obyek tersebut yang hilang atau tidak lengkap.

 

 

PENERIMAAN

Setelah konsumen melihat stimulus, memperhatikan, dan memahami stimulus tersebut maka sampailah kepada suatu kesimpulan mengenai stimulus atau obyek tersebut. Inilah yang disebut persepsi konsumen terhadap obyek tersebut atau citra (images) produk. Persepsi konsumen ini adalah output dari penerimaan konsumen terhadap stimulus.

 

 

RETENSI

Retensi adalah proses memindahkan informasi  ke informasi jangka panjang (long-term memory). Memory terdiri atas tiga sistem penyimpanan, yaitu:

  1. Sensory memory à tempat penyimpanan informasi sementara.
  2. Short-term memory à tempat penyimpanan informasi untuk waktu yang terbatas dan memiliki kapasitas yang terbatas.
  3. Long-term memory à tempat penyimpanan informasi dalam jangka waktu yang lama dan memiliki kapasitas yang tidak terbatas.

RETRIEVAL

Retrieval atau mengingat kembali  merupakan proses mengingat informasi yang telah disimpan dalam memori jangka panjang yang suatu saat dipakai sebagai suatu pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

posted under Academic | No Comments »

KEPRIBADIAN

September15

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

 

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

 

 

KEPRIBADIAN

Oleh    : Annisa Maghfirah

Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pemgembangan Masyarakat)

College of Human Ecology

 

Kepribadian adalah gabungan dari beberapa karakter. Memahami kepribadian konsumen penting bagi pemasar, karena kepribadian bisa terkait dengan perilaku konsumen. Kepribadian menggambarkan perbedaan individu. Kepribadian menunjukkan konsistensi dan berlangsung lama. Kepribadian juga dapat berubah.

Ada beberapa macam definisi kepribadian dari beberapa penulis, yaitu sebagai berikut

  1. “However, we propose that personality be defined as those inner psychological characteristics that both determine and reflect how a person responds to his or her environment.” (Schiffman dan Kanuk, 2000, hal.94).
  2. “Personality has many meanings. In consumer studies, personality is defined as consistent responses to environmental stimuli” (Engel, Blackwell, dan Miniard, 1995, hal.433).
  3. “Personality is defined as the distinctive patterns of behavior, including thoughts and emotions, that characterize each individual’s adaption to the situation of his or her life” (Mowen dan Minor, 1998, hal.198).
  4. “Personality, which refers to a person’s unique psychological makeup and how it consistently influences the way a person responds to his/her environment” (Solomon, 1999, hal.165).

 

TEORI KEPRIBADIAN

 

  • Teori Kepribadian Freud à Kepribadian datang dari dalam diri manusia.

Kepribadian terdiri atas tiga unsur yang saling berinteraksi:

  1. Id à aspek biologis yang sudah ada dalam diri manusia sejak lahir, yang mendorong munculnya kebutuhan fisiologis seperti rasa lapar, haus, dan sebagainya.
  2. Superego à aspek psikologis pada diri manusia yang menggambarkan sifat manusia untuk tunduk dan patuh kepada norma-norma sosial, etika, dan nilai-nilai masyarakat.
  3. Ego à penengah antara superego dan id ynag berusaha menyeimbangkan apa yang ingin dipenuhi oleh id dan apa yang dituntut oleh superegoagar sesuai dengan norma sosial.
  • Teori Neo-Freud (Teori Sosial Psikologi) à Teori ini merupakan kombinasi dari sosial dan psikologi. Teori ini menekankan bahwa manusia berusaha untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat dan masyarakat membantu individu dalam memenuhi kebutuhan dan tujuannya. Teori ini mengatakan bahwa kepribadian dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan motivasi.

 

  • Teori Ciri (Trait Theory) à Teori ini menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur kepribadian konsumen. Teori ini juga mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat atau cirinya yang paling menonjol.

 

GAYA HIDUP

 

Gaya  hidup adalah pola dimana orang hidup dan menggunakan uang dan waktunya (patterns in which people live and spend time and money, Engel, Blackwell, dan Miniard, 1995, hal.449). Gaya hidup seringkali digambarkan dengan kegiatan (activities), minat (interests), dan opini (opinions) dari seseorang. Belajar, liburan, hobi, dan media adalah contoh-contoh kegiatan. Keluarga, rumah, makanan, dan fashion termasuk ke dalam minat. Diri sendiri, ekonomi, dan pendidikan tergolong ke dalam opini.

Psikografik adalah pengukuran kuantitatif gaya hidup, kepribadian, dan demografik konsumen. Psikografik sering diartikan sebagai pengukuran kegiatan, minat, dan pendapat. Psikografik analisis biasanya dipakai untuk melihat segmen pasar. Segmentasi pasar dapat dibedakan menjadi geografi, demografi, psikografi, dan behavioral.

posted under Academic | No Comments »

Manfaat Mempelajari Perilaku Konsumen

September7

Consumer Behaviour Class (Kelas Perilaku Konsumen) Tuesday Afternoon

Department of Family and Consumer Sciences – College of Human Ecology

Bogor Agricultural University

Lecturer : Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, MSc

Session 1 www.ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id

MANFAAT MEMPELAJARI PERILAKU KONSUMEN

Oleh    : Annisa Maghfirah

  Mayor SKPM (Sains Komunikasi dan Pemgembangan Masyarakat)

  College of Human Ecology

  • Motivasi adalah faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan konsumen.
  • Kebutuhan terbagi menjadi dua tipe, yaitu Utilitarian dan Hedonik. Utilitarian adalah kebutuhan yang kasat mata, misalnya makanan, minuman, harta, dan sebagainya. Sedangkan Hedonik adalah kebutuhan yang tidak kasat mata, misalnya kesehatan.
  • The desired end state is the goal
  • The degree of arousal is drive
  • Budaya dan kepribadian bergabung menjadi keinginan –one manifestation of a need.
  • Teori yang mendasari motivasi dan kebutuhan terbagi menjadi dua, yaitu Drive Thory dan Expectancy Theory. Drive Theory dapat diartikan sebagai perilaku konsumen yang fokus pada kebutuhan biologis, misalnya lapar. Expectancy Theory adalah perilaku yang dicapai karena keinginan untuk mencapai sesuatu.
  • Needs atau kebutuhan dapat dibagi menjadi empat bagian. Biogenic, Psychogenic, Utilitarian, dan Hedonic.
    • Biogenic dapat diartikan sebagai kebutuhan biologis seperti makan, minum, tidur, dan sebagainya
    • Psychogenic dapat diartikan sebagai kebutuhan yang timbul karena kebiasaan. Misalnya, karena sudah terbiasa makan nasi, orang Indonesia menganggap dirinya sudah makan, hanya jika ia sudah makan nasi.
    • Utilitarian adalah kebutuhan yang memerlukan produk secara fisik. Misalnya, setiap orang memerlukan komunikasi, maka untuk itu, kita harus memiliki telepon atau handphone untuk berkomunikasi.
    • Hedonic adalah kebutuhan akan barang-barang tertentu. Misalnya, kita hanya ingin mempunyai handphone dengan suatu merk tertentu.
  • Selain hal-hal diatas ada beberapa lagi jenis kebutuhan yang diketahui.
    • Need for achievement (kebutuhan akan barang mewah)
    • Need for power (kebutuhan untuk bergabung dengan organisasi tertentu)
    • Need for affiliation (kebutuhan untuk berteman)
    • Need for uniqueness (kebutuhan akan barang-barang yang terbatas)
  • Maslow mengklasifikasikan kelompok-kelompok kebutuhan berdarkan tingkat kebutuhannya. Teori ini biasa disebut Maslow Hierarchy.
posted under Academic | No Comments »